Tampilkan postingan dengan label Fact. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fact. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

When Little Action can Bring a Big Impact

When Little Act can Bring a Big Impact

Kata-kata ini sudah pasti bukan hal asing di telinga kita.
Biasanya sih kata-kata ini merupakan kalimat penutup di suatu pemaparan yang sifatnya persuasif.

Contohnya, saat ada gerakan matiin lampu selama 1 jam (lupa nama officialnya apa), setelah pemaparan panjaaang mengenai efek yang bisa timbul dengan gerakan simpel tapi masif seperti matiin lampu selama 1 jam dan dilakukan berbarengan sama seluruh orang di dunia,
terakhirnya bisa hampir dipastiin ada kata-kata itu

Ada lagi contoh misalnya yang berkaitan sama green movement.
Misalkan di awal dipaparkan mengenai kualitas lingkungan yang sdh sangat jelek sekarang.
Dipaparkan juga penyebabnya apa.
Terakhirnya, muncul suatu ajakan untuk melakukan tindakan kecil yang sangat simpel :
Jangan Buang Sampah Sembarangan.
Gerakan simpel itu kalo bener2 dilakukan oleh seluruh orang di dunia, pasti akan berdampak besar bagi lingkungan bumi kita.
Dan kata2 di awal tulisan ini, hampir pasti juga bisa dipastikan akan dimunculkan.
Kayak yang ada di filmnya Al Gore : "An Inconvenience Truth" ya kalo gak salah.

Ya, kalimat itu emang pny arti yang sangat dalam.
Dan bisa diimplementasikan di seluruh aspek hidup.
Dan bisa jg dicocok2in ke dalam kondisi macem apapun.

Masalahnya adalah :
Kata-katanya emang simpel, 
Makna denotasinya juga simpel,
Tapi pernah gak kita mencoba melakukan hal simpel tersebut?

Nah!!
Kalo sudah, Alhamdulillah.
Kalo belum ...... -_-

Kalo saya....
Memang blm melakukan banyak, tp Alhamdulillah sudah pernah lah.
Dan kali ini, bekerja sama dengan 3 orang teman saya yang tergabung dalam foundation XL Future Leaders mau implementasi hal itu lagi.

Simple and Little Action.

Kita semua adalah adalah dan sudah pernah menjadi mahasiswa yang ada di Surabaya.
Tentunya ada kebanggan buat kita bisa hidup dan tinggal di Kota Perjuangan ini.
Semua jg pasti sudah tahu klo Surabaya mulai menemukan jati dirinya sebagai Kota Sejuta Taman di bawah kepemimpinan Bu Risma selaku Walikota Surabaya.
Berkat itu, Surabaya dapat banyak penghargaan di bidang lingkungan dan tata kota yang skalanya nasional bahkan internasional.

Tapi.....
Siapa salah satu pihak yang berjasa dengan kontribusinya untuk Kota Surabaya sehingga menjadi seperti sekarang?
Pihak yang kontribusi besar tapi sering banget dilupakan.

PASUKAN KUNING

Oleh karena itu, berangkat dari ide simpel kita coba melakukan hal kecil dan simpel dengan harapan bisa membawa kebahagiaan dan kebermanfaatan buat para pahlawan kebersihan kita itu.
Mungkin efeknya tidak bisa dirasakan secara langsung sekarang.

Tapi melalui ide kita itu, kita mau mencoba untuk memberikan apresiasi dan meningkatkan empati kita semua kepada pahlawan yang satu ini.

Inilah ide kita :


Kita sadar, byk sekali skeptis kepada ide kita dan pertanyaan2 buat apa kita bikin kayak ginian.
Efeknya apa ke pasukan kuning.
Dampaknya apa?

Jawaban kami cuma 1 kok:
Saat kalian senyum lihat video tersebut, saat itulah ide kita berhasil. Kita bisa memberi kebahagiaan buat pasukan kuning dan kalian semua yang lihat video itu :)

So?
#HappyToday for All!!!!












Jumat, 04 Juli 2014

Jangan Cela PSK

Lokalisasi.
Berasal dari asal kata Lokal yang artinya sentralisasi dalam satu lingkup yang tidak luas.
Jadi secara harafiah lokalisasi itu secara denotasi tidak selalu berarti tempat pelacuran.
Tapi karena memang kita semua sudah sangat familiar dengan penggunaan kata lokalisasi untuk mengistilahkan tempat pelacuran. Akhirnya jadi muncul algoritma sederhana :

// LOKALISASI = TEMPAT PELACURAN //
 
Dan mumpung juga lagi hangat2 tai ayam momentum penutupan lokalisasi (yang katanya) terbesar di Asia Tenggara yang ada di Surabaya, Kota Pahlawan, namanya Dolly, saya mau share tentang pengalaman pribadi saya yang belum pernah saya ceritakan ke siapa.
Karena malu.
Karena gak tahu kenapa saya harus share.
Karena takutnya saya dianggap freak.

Jadi gini, 
Logika yang sudah umum di masyarakat adalah para penghuni lokalisasi semuanya adalah orang gak bener, orang brengsek, bajingan.
Mulai pengunjung yang datang, orang yang bekerja secara langsung menjajakan (PSK) sampek makelar jahat (germo).
Dan yang saya kritisi di sini adalah PSK nya.
Gak jarang orang-orang itu mencela PSK karena dianggap PSK itu biang keladi dari kemaksiatan perzinahan bebas tersebut.
Orang-orang selalu bilang :

"Kalo PSK gak ada, perzinahan pasti gak ada dan lokalisasi pasti tutup secara otomatis"

Padahal belum tentu juga. Kenapa?
Ya karena kalo dari hasil studi lapangan (ciieee) itu awalnya malah PSK itu ada karena permintaan dari masyarakat itu sendiri.
Jadi logika orang-orang itu kebalik.
Kalo PSK gak ada, ya masyarakat hidung belang bakalan selalu cari cara buat dapetin pemenuh hasrat berlebihannya.
Bukan gara-gara PSK ada dulu, terus menarik masyarakat.
Walaupun emang sih, banyak orang yang awalnya gak tau, jadi pengen tau dan mencoba ke lokalisasi.


Ya saya sadar kalo share saya ini gak kuat karena gak pake riset bertahun2 dan birokrasi berbelit2nya.
Tapi apa yang saya paparin di sini itu hasil wawancara langsung dengan salah satu pelakunya (PSK nya).
Gak perlu ditanyalah ya gimana kira2 saya bisa wawancara langsung dengan salah satu pelakunya hahhaa.

Tapi yang jelas, intisari dari hasil wawancara singkat dengan PSK tersebut itu emang mirip2 banget sama cerita klise di sinetron2 gitu.
Dia datang dari desa, dibawa sama temennya, katanya mau diajak jd pembantu rumah tangga, tapi ternyata dia didiemin hampir 2 minggu di daerah Dukuh Kupang sana.
Terus kata temennya, lowongan buat pembantu rumah tangga udah penuh, akhirnya dia ditawari buat jadi lady escort buat karaoke.
Dia akhirnya mau dengan syarat dia disulap dulu alias dimake over.
2 minggu pertama dia beneran jadi lady escort di karaokean.
Tapi akhirnya singkat kata, dia tercelup juga ke dunia hitam itu. Diawali dengan tawaran dari pelanggan karaokenya buat "pelayanan" lebih dan berlanjut hingga jadi PSK kayak sekarang.
Sekarang, dia mau mentas, mau pergi dari wismanya, udah gak bisa karena dia baru tau kalo di terjerat utang yang banyak banget ke germo atau mucikarinya. 
Dia jg bilang kalo di sana itu dijaga sama banyak banget preman2.
Jadi PSK di sana juga gak bisa macem atau melarikan diri.

Itu kebetulan PSK yang saya wawancarai dengan latar belakang yang lumayan bener.
Tapi tidak dipungkiri juga kalo gak sedikit PSK yang memang dari sononya agak atau mungkin gak bener. (maaf kasar)

Tapi mungkin yang menyakitkan adalah generalisasi dari masyarakat kalo semua PSK itu kayak sampah.
Selalu mencela PSK.
Memang mereka salah.
Mereka hina.
Tapi mereka juga manusia.
Terlebih lagi buat mereka yang berasal dari latar belakang yang bener.

Analoginya, 
kamu punya temen, temenmu itu dulunya klepto.
Tapi sekarang udah enggak, dan karena generalisasi temen2mu tentang dia klepto, akhirnya gak ada 
yang mau temenan sama dia.
See??
Semua orang punya masa lalu hitam, yang mungkin dia sendiri gak mau membuat masa lalu itu.
Jadi tolong banget, 
(Bijak Banget Kalo Kita) Jangan Cela PSK ...

Sabtu, 17 Mei 2014

Tragedi Tambun dan (kemungkinan) Kebohongannya

Seluruh masyarakat Surabaya,  dan mungkin Indonesia.
Ato mungkin seluruh Dunia pasti masih segar ingetannya tentang : "Tragedi Tambun"
Karena memang tragedi ini sangat miris dan menyedihkan.

Belum tau Tambun?
Tambun itu singkatan dari Taman Bungkul hahaha
Taman yang ada pas di tengah kota Surabaya. Taman yg sdh jadi ikon Kota Surabaya.
Taman yg beberapa kali dapet penghargaan skala int'l.

Dan sekitar 1 minggu yg lalu,, tragedi itu terjadi.

"Taman Bungkul yang sudah direvitalisasi oleh Pemkot Surabaya dari (sekitar) tahun 2003, rusak parah hanya dalam waktu 15 menit"

Tanaman di median jalan sepanjang 1 km rusak parah.
Tanaman2 di Taman Bungkul bagian depan jg rusak dan rata.
Suasana Car Free Day yg tiap minggu diadakan di Jalan Raya Darmo (Jalan protokol dpn Taman Bungkul) yang biasanya ceria uda jadi serem gara2 lautan manusia yg banyak banget.
Penyebabnya cuma 1 :  Orang-orang pada berebut ice cream (orang surabaya bilangnya es grem) yang dibagikan gratis sama W*lls. rata2 ice cream itu harganya cm 3 ribuan.

Kronologis lengkap banyak di berita kok. Ini salah satunya :

Terlepas dari salah siapa, warga yang terlampau beringas ato penyelenggara yang teledor.
Ada beberapa hal yg jadi sorotan saya :
1. Unil**er selaku produsen W*lls bilang kalo pihaknya gak tau apa2. Karena sdh melimpahkan teknis acara ke EO di Surabaya
2. Kata Unil**er, pihak EO bilang kalo perijinan sudah beres dan acara bisa dilaksanakan
3. Dari pihak pemkot dan kepolisian bilang kalo kegiatan itu ilegal dan gak ada ijinnya

Terkesan saling lempar bola tanggung jawab kan?

Nah, saya dpt info dari sumber yang (lumayan) terpercaya, ada beberapa fakta yang gak di blow up ke media sampai sejauh ini (udah berasa detektif profesional banget ini hehe).
1. EO yang dimaksud Unil**er itu namanya S*nj*ya. EO yang ada di 3 kota (Jakarta, Surabaya, Bandung). dan memang EO ini rekananya Unil**er. Untuk di kawasan Jatim, emang EO ini yang dipercaya sama Unil**er untuk penyelenggaran promotion event (kalo yang ini saya tau bener, karena pernah bersinggungan sama EO ini)

2. Unil**er bilang semuanya dilimpahkan ke EO. Mulai pemilihan lokasi, perijinan dll nya. Padahal dari pihak Unil**er sendiri yg pgn tempatnya di tambun. Karena tau tambun itu tempat yg pasti rame. Jadi bisa minimasi biaya promosi event yang niatannya mau dibuat pemecahan rekor MURI juga

3. Pihak EO uda bilang klo perijinan buat event besar di tambun agak seret, tapi Unil**er masih pgn tempatnya di tambun

4. Ada kabar yg bilang kalo akhirnya EO dpt ijin dari pemkot. Tapi gak tau ijinnya ini resmi ato enggak (cuma sebatas uang pelicin supaya dijinin tanpa ada ijin resmi). Indikasi ini muncul stelah pihak pemkot secara tegas bilang g ada ijin, padahal pihak EO merasa uda dpt ijin (nah lo)

5. Katanya juga, pihak Unil**er sdh membayar sebagian ganti rugi. Tapi tuntutan pemkot ke pihak Unil**er blm dicabut

6. Petinggi EO di Surabaya ini kabarnya sekarang jadi tersangk atau saksi kuat yg bisa mengarah ke tersangka gitulah.


Dari beberapa poin di atas, terlihatnya sih pihak Unil**er terkesan cuci tangan banget.
Walaupun pada akhirnya tetap membayar kerugian materiil kerusakan Taman Bungkul sesuai janjinya.
Silahkan dinilai sendiri apa yg sebenarnya terjadi gara2 peristiwa ini.
Apakah memang masyarakat Surabaya yang salah??
Mereka bilang cinta Surabaya. Cinta ikon Surabaya. Cinta Taman Bungkul. Bangga akan Taman Bungkul.
Tapi gara2 es krim harga 3000an, jadi lupa sama omongan2 mereka dan secara sadar ataupun g sadar jadi merusak Taman Bungkul.
Ataukah pihak EO?
Atau pihak produsen produk?
Atau malah pihak pemkot yang ada indikasi ke arah gratifikasi???
Jujur saya juga gak bisa memastikan.
Semuanya masih dugaan.

Saya mau publish tulisan ini juga agak takut.
Takut kena UU elektronik ato mungkin pencemaran nama baik :(
ya semoga semua bisa ambil hikmah dari Tragedi Tambun itu.
Kalo memang sayang dan bangga, kita juga kudu bisa merawat dan mempertahankannya.
Bener kan? :)